Pemrakarsa Pendukung Foto Berita/Event Tujuan Links Contact us HOME
 

Buya Ahmad Syafii Maarif

Pendapat Mereka tentang Buya Syafii Maarif

1. Drs. H. M. Jusuf Kalla, Wakil Presiden RI 2004-2009

Ada tiga hal yang mengagumkan dari beliau. Pertama, sebagai akademisi intelektual muslimin yang sangat baik dan terkenal yang mempunyai pikiran-pikiran jernih, khususnya masalah sosial keagamaan. Kedua, sebagai pimpinan Muhammadiyah yang teguh mempersatukan Muhammadiyah. Ketiga, sebagai tokoh nasional yang banyak memberikan pikiran-pikiran plural serta banyak memberikan pencerahan, tapi kritis dan tetap dalam satu situasi persatuan nasional. Tidak banyak orang yang seperti beliau, yang mau berbicara secara jernih, kritis tapi masih dalam konteks persatuan kita. Pikiran-pikiran tokoh-tokoh penting seperti Buya patut disimak dan dipelajari serta dijadikan teladan.

2. Prof. Drs. H. Abdul Malik Fadjar, M.Sc., Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Saya mengenal Pak Syafii sejak beliau masih jadi aktivis di UN Muhammadiyah malang, sejak tahun '83-'84. Pak Syafii cukup konsisten dalam pikiran dan pandangannya, khususnya dalam upaya mengembangkan wawasan dan pemikiran Islam, khususnya di lingkungan Muhammadiyah; dan tentu saja dengan latar belakang pendidikan beliau mulai dari Sumatera Barat sampai Yogya, serta pengalaman kerja beliau di NTB, pergaulan serta pendidikan beliau di Amerika, memberi banyak nuansa yang ada di benak beliau. Beliau lebih menonjol setelah tidak lagi aktif di kepemimpinan Muhammadiyah. Saya paham betul, di satu sisi, beliau memberikan pengembangan wawasan jauh ke depan secara luas, tetapi di sisi lain juga terikat struktur pikiran-pikiran terformat dalam doktrin Muhammadiyah. Sebetulnya tidak ada pertentangan, tapi harus ngemong, kalau menggunakan istilah Pak Fahrudin. Beliau tidak ingin seperti kereta langsir, jalan sendiri, tetapi selalu ngemong gerbong yang ada di belakang-artinya warga Muhammadiyah yang dipimpinnya khususnya dan umat Islam keseluruhan.

3. Prof. Suyanto Ph.D., Dirjen Mandikdasmen, Depdiknas.

Pak Syafii adalah sosok yang sangat sederhana dan bisa diteladani oleh banyak orang. Pemikiran beliau sangat mencerdaskan dan selalu ada yang baru, aktual, meski tetap kritis. Bagi generasi muda, pikiran Pak Syafii menjadi inspirasi untuk berkembang ke arah pemikiran-pemikiran berikutnya yang inovatif. Pak Syafii sangat independen, tidak mau ikut siapa-siapa, tetapi beliau mempunyai kehendak, tujuan, dan kebebasan untuk mengemukakan pendapatnya. Di samping itu, Pak Syafii Maarif merupakan contoh tokoh yang sangat menghargai toleransi pluralisme, dan tidak menghendaki adanya kebenaran yang mutlak bagi pemeluk agama dengan cara mendiskreditkan agama yang lain, sehingga banyak teman dari agama lain pun sangat menghormati Pak Syafii.


4. Dr. Abdul Mu'ti, PP Muhammadiyah dan Direktur Eksekutif Centre for Dialogue and Cooperation among Civilizations (CDCCO ).

Yang paling pertama, Bapak Syafii ini sikapnya sangat elegalitarian. Saya sangat dekat dengan beliau ketika saya menjadi Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah, dan Buya Maarif menjadi Ketua Umum PP Muhammadiyah. Saya melihat bagaimana Buya Syafii ini menunjukkan dirinya sebagai sosok yang sangat humble, sangat dekat dengan siapapun, dan sangat eligalitarian. Beliau suka bicara to the point dengan gayanya sendiri. Tetapi yang menarik dari Pak Syafii ini adalah, meskipun beliau seorang tokoh besar, namun karena sikap elegalitarismenya, kita bebas untuk mengkritik beliau. Sama sekali tidak ada ekspresi ketersinggungan beliau dengan kritik kita, dan sama sekali tidak ada ekspresi bahwa beliau mengabaikan kritik kita. Saya merasakan itu, karena tahun-tahun ketika saya bersama beliau merupakan tahun yang sangat berat bagi Muhammadiyah. Tahun 2004, ketika Muhammadiyah memang harus bergulat dengan persoalan politik, itu momen-momen yang kritis. Dan di situlah saya bisa melihat bagaimana sikap eligalitarisme seorang Maarif; ketika kami anak-anak muda ini dengan sangat berani mengkritik beliau, bahkan ketika kadang-kadang kritik kami sangat keras.

5. Kardinal Julius Darmaatmadja SJ.

Menurut saya, beliau adalah seorang yang tidak hanya beragama, tetapi juga orang yang beriman. Iman beliau sangat dalam dan dua arah, yaitu iman kepada Allah SWT yang ia imani dan yang ia hidupi itu. Dalam memandang seluruh alam ciptaan ini dan terutama fokusnya pada manusia, beliau memiliki paham harus mencintai Allah yang menciptakan beliau. Allah adalah khalik, tetapi Khalik ini juga menciptakan semua orang di dunia ini dengan segala ciptaannya. Sehingga, kalau beliau mencintai Allahnya, dia juga merasa berelasi dengan semua umat manusia yag diciptakan Allah SWT, dan yang juga sama-sama dicintai Allah. Inilah iman yang begitu dalam.

Beliau mudah menerima sesama dengan kasih. Hatinya selalu terbuka. Meskipun saya Katolik, beliau menerima saya sebagai pribadi yang diciptakan Allah, yang juga dikasihi Allah. Kedalaman ini dijadikan dasar sikap, sehingga kalau beliau berpendapat, mempunyai paham pemikiran, sudah diolah dalam hati--dalam kedalaman imannya, dalam kedalaman hati nuraninya, sehingga beliau konsisten.

6. Bapak Teguh Widodo, Direktur Taman Ismail Marzuki.

Saya sudah lama mengenal beliau dari tulisan, gagasan, dan dari kiprahnya sewaktu di PP Muhammadiyah, tapi lebih sering bertatap muka setelah beliau duduk di akademi Jakarta. Kita sering rapat bareng dan konsultasi. Saya betul-betul kagum dengan beliau. Beliau, kalau berbicara, ceplas-ceplos, namun kadang-kadang itu diperlukan. Kita tidak perlu orang yang santun, tapi orang yang bermartabat. Beliau adalah kriteria martabat itu. Dalam satu seminar beliau ditanya, apakah beliau bersedia tidak jadi presiden? Beliau menjawab tidak bersedia. Itu ketulusan beliau, kalau di Indonesia ada 10 orang seperti beliau, bisa gelinding negara ini.

7. Romo Benny Susetyo, Sekretaris Eksekutif Komisi HAK, KWI.

Ahmad Syafii Maarif itu pemikir besar Indonesia, karena dia melihat Indonesia secara utuh. Bagaimana relasi negara dan agama, khususnya pemikiran-pemikiran agama yang radikal, dalam arti membebaskan rakyat dari ketindasan. Maka kalau kita mengikuti Buya Syafii Maarif 10 tahun yang lalu, pribadi beliau itu menggetarkan, karena mampu memberi orientasi hidup berbangsa dan bernegara. Saya masih ingat kata-kata beliau: kalau Indonesia seperti ini, maka akan masuk ke dalam jurang sejarah. Artinya Indonesia ini tidak ada lagi. Memang kata-kata itu menggetarkan. Itu karena beliau sebenarnya punya concern bagaimana membangun republik ini ke depan. Maka, kalau kita melihat sosok beliau; bagaimana beliau dengan jujur menyuarakan suara nuraninya, kerap kali kata-katanya keras, dan kerap kali membuat kekuasaan menjadi panas kupingnya. Tetapi, memang kejujuran seorang Syafii Maarif adalah kejujuran yang tulus untuk bangsa dan negaranya dan tidak ada interest politik. Ketika beliau masih menjadi pemimpin Muhammadiyah, jelas gagasan tentang bagaimana Muhammadiyah ke depan dengan membangun kebudayaan, nilai-nilai peradaban. Itu yang selalu beliau tampilkan kepada publik Indonesia. Sayangnya, Buya, denga usia yang tua ini, memimpin gerakan itu. Kalau Buya lahir tahun '40-an, menjadi pemimpin kita, maka Indonesia mungkin sudah bangkit dari moralitas ini. Tapi, kita belajar banyak dari sosok dia, belajar tentang kerendahan hati, bagaimana dia menjadi guru bangsa dalam memandu republik ini agar mampu keluar dari krisis besar. Krisis besar ini, dalam tulisan-tulisan Buya, sebenarnya diberi jalan keluarnya. Hanya mungkin, bangsa ini lambat mendengar pujangga kita, pujangga yang orisinil dalam gagasan tentang keindonesiaan. Ide-ide besar merajut persaudaraan sejati, bagaimana Indonesia bisa bangun menjadi Indonesia yang jaya, Indonesia yang mempunyai harga diri dan bermartabat. Semua ini menjadi keprihatinan beliau. Kerap kali Buya dilihat sebagai sosok yang berani melawan arus; dan arus yang terbesar, adalah ketika dia harus mengatakan dengan jujur, yang paling cocok memimpin bangsa ini dengan segala keprihatiannya. Buya ingin mengatakan, memang kita harus mencari jalan keluar dari krisis ini, meskipun arus besar itu kelihatan tidak dapat menerima pendapat Buya. Tetapi, ketika saya memahami ide-ide beliau, sebenarnya Buya ingin keluar dari sebuah krisis yang membuat kita kerap kali terkurung dalam prihatinisme; justru Buya ingin mencari optimisme baru itu. Dengan menonjolkan sosok-sosok baru, saya katakan dia berani keluar dari rasa aman, keluar dari rasa keagamaan yang sempit, keluar dari rasa bahwa kita selalu hidup dalam kultus. Jadi Buya adalah sosok yang baru dari segala hal: bidang politik, agama; tapi, yang lebih besar adalah Buya ingin mengembangkan keadaban kita; sosok yang setiap kali kata-katanya menukik yang membuat mata kita semua terbuka. Buya identik dengan Hatta: pemikiran cemerlang tapi orang tidak mengingat jasanya. Buya bukan seorang orator, tetapi Buya adalah orang yang memiliki pemikiran rasional dan mengaktualisasikannya untuk peradaban itu. Itulah sumbangannya, dan kita sebenarnya melihat sosok Buya sebagai Guru Bangsa.

8. Bapak Budi. S. Tanuwibowo, Ketua Umum Majelis Tinggi Agama Konghucu Indonesia.

Beliau adalah orang yang sangat sederhana. Dengan posisi beliau yang cukup tinggi di masyarakat, dia tidak lupa hanya karena jabatannya. Buya adalah orang yang mencintai Islam, dan juga mencintai Indonesia. Ketika dia membangun keislamannya, ia sekaligus membangun keindonesiaannya. Jadi ketika dia membangun, dia tidak hanya membangun kamar, tapi juga membangun rumah. Inilah sosok yang membuat kita begitu adem. Kalau misalkan pemimpin-pemimpin Indonesia bisa meniru apa yang dilakukan Buya, kami yang sering disebut kaum minoritas, meskipun saya menolak istilah itu, merasa lebih nyaman. Islam yang selama ini seakan-akan keras menjadi luruh ketika kita melihat sosok seperti Buya yang begitu arif. Maka, nama Syafii Maarif itu pas. Kemudian, ketika semua orang gila kekuasaan, ingin mempertahankan jabatan, beliau tidak; meskipun pada waktu itu, saya tahu, beliau rela lengser dari Muhammadiyah untuk memberi kesempatan pada yang lain; dan ini patut ditiru. Indonesia cukup banyak memiliki politisi dengan berbagai kelas, tetapi Indonesia memiliki sedikit sekali sosok negarawan, tokoh-tokoh seperti ini yang harusnya kita beri tempat di depan. Indonesia butuh guru bangsa dan Bapak Syafii maarif adalah salah satu tokoh yang pantas di posisi itu.

9. Romo Franz Magnis-Suseno SJ, STF Driyakarya.

Beliau adalah sahabat saya. Saya selalu terkesan oleh keterbukaannya, oleh kombinasi yang bagus antara keislaman dan keagamaannya yang yakin dengan sikap pluralisme. Saya kira itu merupakan modal penting bagi bangsa Indonesia untuk melihat bahwa perbedaan beragama bisa mempersatukan, dan tidak sama sekali berubah menjadi alasan kita. Saya menganggap beliau adalah orang yang sangat brilian.

10. Jend. (Purn.) AM Hendropriyono, Mantan Kepala BIN

Seorang intelektual, mempunyai jiwa keras dalam menegakkan prinsip, dan juga berani menentang arus, meskipun ia menjadi korban. Maksud saya korban, artinya bahwa terhempas oleh arus itu, tapi tetap tegar tanpa ada ambisi atau misi pribadi pada perlawanan itu. Dia juga seorang yang mendambakan perdamaian, yang menghindarkan cara yang keras, berani, tapi selalu menghindarkan konflik.

11. Dr. Jusuf Wanandi, Pengusaha

Beliau mempunyai kharisma yang sangat rupawan yang diakui oleh banyak orang. Saya pernah ke Amerika Serikat bersama beliau mengikuti konferensi yang terdiri dari tokoh-tokoh pemerintah dan swasta. Semua mengakui saat beliau mengemukakan pandangan beliau tentang Islam di Indonesia dan perjuangan Islam secara global, bahwa beliau memberikan kesan dan suatu perasaan wibawa pada orang-orang lain. Jadi, saya kira, memang beliau itu seorang negarawan, seorang guru untuk bangsa kita yang sangat diperlukan sekarang ini. Sebetulnya saudara Harry Tjan mengajukan beliau sebelum pemilu '94 supaya beliau mau tampil sebagai calon presiden, tapi karena pertimbangan beliau sebagai pribadi, beliau tidak berminat untuk masuk politik. Pada waktu itu beliau masih menjabat Ketua Umum Muhammmadiyah, jadi tidak jadi dicalonkan. Memang usul Harry Tjan itu ditanggapi, tapi saya rasa yang kita perlukan itu tokoh-tokoh seperti beliau, negarawan yang bisa menjadi guru bangsa di luar pemerintahan, dan saya kira beliau sebagai tokoh negarawan sangat penting peranannya. Beliau adalah seorang yang memiliki pandangan luas, pluralis, diakui dan dihormati oleh seluruh lapisan masyarakat. Berbagai suku, ras, ataupun agama merasakan peranannya saat menghadapi beliau. Semua mengakui beliau sebagai tokoh mereka, dan beliau menjadi kebanggaan mereka karena mau memegang peranan ini.

12. Bapak Sudhamek AWS SE, SH, CEO Garuda Food, Ketua umum MBI.

Buya adalah sosok yang konsisten dalam memperjuangkan nilai-nilai. Beliau adalah satu anak manusia yang sangat tidak interen, jujur mengatakan apa yang mestinya dikatakan dengan bahasa yang sangat lugas, tapi tidak semua dilakukan; saya yakin karena Buya dan rasa kecintaan terhadap Indonesia. Bangsa ini merupakan bangsa yang besar.

13. Pdt. Erick J. Barus, Persatuan Gereja-Gereja Indonesia.

Kami dari Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia sangat menghargai kehadiran Buya Syafii Maarif di tengah-tengah ketidakadilan yang kita hadapi di Indonesia. Bukan hanya sekarang, tetapi ke depan, kita masih membutuhkan person Buya Syafii Maarif-- khususnya yang mampu menciptakan kerukunan umat beragama di Indonesia, tokoh pluralisme di tengah kemajemukan yang ada di Indonesia yang sangat didukung oleh Undang-Undang dan prinsip Bhinneka Tunggal Ika. Ia adalah guru yang patut diteladani, bukan hanya oleh komunitas Islam tapi juga umat Kristen, bagaimana seorang Buya Syafii Maarif seorang yang arif dan bijaksana merespon masukan-masukan untuk kemajuan bangsa ini.

14. Drs. Nyoman Udayana Sangging, SH, MM, Ketua V bidang Penelitian dan Pengembangan Parisada Hindu Darma Indonesia, Pusat.

Menurut saya, beliau sangat arif dan bijaksana tutur kata dan nasehat-nasehatnya. Saya terkesan sekali saat kami dari umat Hindu berkunjung ke Lampung. Di sana, ada suatu gerakan untuk menyejahterakan umat, dan beliau bisa mengumpulkan banyak umat dari berbagai agama, instansi pemerintah, LSM, dan sebagainya. Dengan tujuan menyejahterakan ekonomi kita berkumpul di satu tempat gedung pertemuan. Di sana, beliau mengutarakan bagaimana upaya kita membantu masyarakatnya.

15. Bhikkhu Sri Pannyavaro Mahathera, Kepala Vihara Mendut, Kepala Sangha Theravada Indonesia

Sewaktu Buya masih menjabat sebagai Ketua PP Muhammadiyah, pergaulan kami dengan Buya sedikit. Tetapi setelah beliau tidak lagi menjabat sebagai Ketua PP Muhammadiyah, kami merasakan Buya memiliki pergaulan yang sangat luas. Buya itu dalam bahasa Jawa, adalah seseorang yang dikatakan ngemong--mendatangi kami, merangkul kami, mengajak kami dalam bahasa yang umum. Kami sungguh merasa tersanjung, sebagai kelompok kecil, umat Budha yang jarang mendapatkan perhatian, seorang Buya Syafii Maarif tokoh besar, mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah memberikan tangan kepada kami, menyapa kami, mengajak kami, itu sungguh perilaku mulia yang bagi kami luar biasa.

16. Prof. Alfred Stephan, Guru Besar Politik University of Columbia

I think he is a very important figure, actually, in the world, and it's important.

17. Pdt. Richard Daulay, Sekjen PGI.

Ahmad Syafii Maarif adalah seorang tokoh bangsa, guru bangsa. Beliau adalah orang yang memiliki pengetahuan yang sangat luas. Bukan hanya memiliki pengetahuan dan bijaksana, beliau juga bersuara keras di tengah berbagai situasi dan krisis, dan itu sangat dibutuhkan oleh bangsa mana pun. Bagi kami orang Kristen, beliau kami sebut sebagai seseorang yang memerankan peranan suara kenabian yang dibutuhkan jaman. Buya Syafii Maarif adalah orang yang sangat penting bagi bangsa ini. Kita mengharapkan bahwa beliau diberikan umur yang panjang, dan akan lahir lagi Buya Buya yang baru. Saya sangat mengapresiasi, meng-respect, selalu mendengarkan dan mengikuti kiprah beliau, pikiran-pikiran beliau, serta buku-buku beliau.

18. Dr. Clara Yuwono, CSIS

Bagi saya, beliau adalah manusia Indonesia yang besar, baik karena kepribadiannya yang sangat mengesankan, juga karena kesederhanaan, kejujuran, dan pengabdiannya yang tulus untuk bangsa dan negara. Bagi saya, Pak Syafii adalah seorang yang bigger than life itu sendiri. Dan saya berharap, Pak Syafii akan mengilhami manusia-manusia Indonesia yang lain untuk meneladani beliau, karena manusia seperti Pak Syafii itu yang sungguh dibutuhkan Indonesia.


19. Brig. Jen. Pol (Purn .) Surya Dharma, Mantan Kepala Densus 88

Perjalanan hidup Prof. Dr. Syafii Maarif, yang saya anggap orang tua saya, harus difilmkan, karena tidak ada tokoh lain khususnya yang menganut paham pluralisme di Indonesia, di mata saya. Dengan media film, maka anak bangsa di wilayah nusantara ini, di mana pun mereka berada, bisa mendengar juga melihat, bahkan mungkin eye to eye contact, walaupun menggunakan lensa, sehingga lebih mudah memahami siapa Syafii Maarif yang sebenarnya. Ide-ide dasar beliau yang demikian besar dan agung itu saya yakin lebih mudah dicerna oleh anak-anak bangsa setelah melihat film beliau.

 

Mari Bergabung